33 views 5 mins 0 comments

Jejak Sejarah Partai Gerindra: Dari Keprihatinan hingga Pilar Politik Nasional

In Politik, Partai
January 22, 2026

Pernyataan atau Manuver Politik Terbaru

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) berdiri sebagai respons politik atas keprihatinan terhadap kondisi demokrasi dan kesejahteraan rakyat Indonesia, sebuah narasi yang terus dipertahankan hingga kini sebagai landasan identitas partai dalam arena politik nasional.


Mengapa Ini Penting dalam Konteks Kekuasaan

Pemahaman tentang sejarah lahirnya Partai Gerindra penting karena membantu menjelaskan bagaimana partai ini memposisikan dirinya dalam kontestasi politik Indonesia sejak awal berdirinya bukan sekadar sebagai aktor pragmatis, tetapi sebagai gerakan yang mengklaim berasal dari panggilan moral untuk mengangkat rakyat dari kemelaratan dan ketidakadilan sistemik. Sejak deklarasi pada 6 Februari 2008, Gerindra tumbuh dengan narasi nasionalis-kerakyatan yang berupaya menantang struktur kekuasaan eksis, menempatkan dirinya sebagai kekuatan oposisi dan alternatif dalam peta kekuasaan partai nasional.


Siapa Aktor di Baliknya dan Kepentingannya

• Prabowo Subianto — Figur Sentral dan Inspirator Gerindra
– Prabowo, tokoh militer dan politik yang semula menjabat Dewan Penasihat Partai Golkar, menjadi salah satu tokoh utama di balik pendirian Gerindra. Perannya dalam mengusulkan simbol lambang burung garuda menggambarkan bagaimana partai ingin mengekspresikan ide kebangsaan, keberanian, dan kemandirian sebagai bagian dari identitas ideologisnya.

• Hashim Djojohadikusumo — Penggagas Nama dan Ideologi Awal
– Hashim berperan signifikan dalam wacana awal pembentukan partai dari pengalaman politik dan ekonomi yang dirasakan tidak berpihak pada rakyat. Ia yang memperkenalkan istilah dan identitas partai “Gerakan Indonesia Raya” (Gerindra), menciptakan warna politik yang berbeda dari partai lama yang dianggap tidak memadai dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

• Fadli Zon, Ahmad Muzani, Sufmi Dasco Ahmad, dan Tokoh Pendiri Lainnya
– Di belakang nama besar Prabowo dan Hashim terdapat jaringan intelektual dan politisi muda seperti Fadli Zon dan Ahmad Muzani yang turut menyiapkan AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) partai. Peran mereka dalam proses pembentukan partai menunjukkan bahwa Gerindra lahir dari konsolidasi elit politik dengan latar belakang aspirasi ideologis, bukan sekadar kepentingan pragmatis kepartaian biasa.


Perjalanan Partai dalam Sistem Politik Indonesia

Partai Gerindra lahir di tengah ketidakpuasan terhadap demokrasi yang dinilai telah dikuasai elit dengan modal besar, di mana rakyat dinilai hanya menjadi penonton tanpa daya pengaruh nyata dalam struktur kekuasaan. Gagasan pembentukan partai dimulai sejak November 2007, saat Fadli Zon dan Hashim Djojohadikusumo berdiskusi tentang kondisi politik yang telah menyimpang dari esensi demokrasi.

Perdebatan tentang pendirian partai berlangsung alot, sampai pada Desember 2007 sejumlah tokoh berkumpul di markas Institute for Policy Studies (IPS) di Bendungan Hilir, Jakarta, menyusun AD/ART dan menetapkan arah ideologis partai. Konteks ini menunjukkan bagaimana Gerindra dibentuk sebagai jawaban atas kesenjangan antara rakyat dan institusi kekuasaan, serta sebagai sarana untuk mendobrak dominasi elit politik yang berorientasi pada modal dan status.

Partai ini kemudian resmi dideklarasikan pada 6 Februari 2008, dengan manifesto yang menegaskan visi soal rakyat yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil dan makmur serta berketuhanan, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sebuah landasan aspiratif yang kemudian menjadi alat legitimasi politik partai di mata konstituen.

Makna lambang kepala burung garuda yang digunakan Gerindra yakni arah kanan yang melambangkan tindakan berani juga memperkuat narasi bahwa partai ini didirikan untuk tindakan nyata dalam memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan sekadar simbol atau struktur organisasi kosong.


Prediksi atau Skenario Politik ke Depan

• Rekonstruksi Identitas Politik di Era Baru
Dalam dinamika kontestasi politik Indonesia saat ini, Gerindra tetap mempertahankan narasi nasionalis-kerakyatan. Tetapi seiring partai memasuki pemerintahan nasional dan koalisi strategis, pertanyaan tentang sejauh mana narasi awal sebagai gerakan untuk rakyat tetap kuat dihadapi dengan realitas kompromi politik akan terus menjadi sorotan publik.

• Kekuatan Organisasi dan Kaderisasi
Gerindra juga dikenal memperkuat struktur organisasi melalui pembentukan DPD dan DPC di berbagai tingkat daerah sehingga mampu memperluas basis dukungan, sesuatu yang krusial dalam pemilu legislatif dan eksekutif berikutnya.

• Peran Historis dalam Politik Nasional
Sejarah partai yang belum lama berdiri namun menjadi salah satu kekuatan politik utama menunjukkan bahwa momentum awal Gerindra masih memengaruhi strategi politik hari ini, terutama dalam menghadapi isu-isu besar seperti reformasi sistem pemilu, kebijakan sosial ekonomi, dan koalisi pemerintahan.