
Pertemuan Trilateral Pertama Bahas Akhir Perang Ukraina
Abu Dhabi — Untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada 24 Februari 2022, delegasi dari Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat mengadakan pertemuan trilateral resmi guna membahas penyelesaian konflik bersenjata yang telah berkecamuk selama hampir empat tahun. Pertemuan tersebut berlangsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dan dijadwalkan berlangsung selama dua hari sejak 23 Januari 2026. Peristiwa ini menjadi titik balik diplomasi karena ketiga pihak mengirim utusan tinggi masing-masing, termasuk perwakilan dari pemerintahan Ukraina, delegasi Republik Rusia, dan mediator dari pemerintahan AS.
Mengapa Ini Penting di Panggung Global
Diplomasi trilateral ini bukan sekadar forum diskusi biasa; ia merepresentasikan upaya koordinasi langsung antara pihak yang berkonflik dan mediator superpower global untuk pertama kali dalam sejarah perang ini. AS, yang memegang peranan sentral sebagai mediator dan penopang dukungan militer bagi Ukraina, kini berusaha memfasilitasi pembicaraan damai yang secara simultan melibatkan Putin dan Zelenskyy melalui jajaran perwakilan mereka. Sementara itu, Rusia hadir dengan syarat-syarat tegas terkait isu wilayah dan Donbas yang masih disengketakan, menandakan bahwa konflik belum mendekati penyelesaian cepat.
Siapa Aktor & Kepentingannya
Ukraina (Delegasi Kyiv)
Presiden Volodymyr Zelenskyy dan delegasinya menghadiri pembicaraan dengan fokus utama pada jaminan keamanan pascaperdamaian dan penolakan terhadap konsesi wilayah yang signifikan. Menurut Zelenskyy, Ukraina berupaya memastikan bahwa perundingan trilateral ini menghasilkan kerangka yang tidak hanya menghentikan pertempuran, tetapi juga menjaga kedaulatan penuh negaranya.
Rusia (Delegasi Moskow)
Delegasi dari Federasi Rusia tetap berpegang pada tuntutan strategis: penarikan pasukan Ukraina dari wilayah yang diduduki, terutama di Donbas, serta beberapa ketentuan lain yang bersifat tak bisa dinegosiasikan dari sisi Moskow. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Rusia berusaha mempertahankan posisinya sebagai kekuatan yang menuntut kesepakatan dengan syarat kuat, bukan sekadar penghentian konflik tanpa imbalan territorial.
Amerika Serikat (Mediator)
AS, melalui utusan khususnya, ikut memfasilitasi pembicaraan trilateral ini. Sebagai kekuatan global yang mempunyai pengaruh besar terhadap Kyiv dan Moskow baik melalui dukungan militer maupun sanksi ekonomi peran AS dalam mengarahkan pembicaraan adalah sebagai mediator utama untuk mencari solusi berkelanjutan dan pembentukan security guarantees pascaperang.
Dari Konflik Bipengerak ke Diplomasi Multilateral
War in Ukraine telah menjadi konflik internasional terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Sejak invasi, upaya diplomatik melibatkan berbagai format: dari pertemuan bilateral antara Zelensky dan Trump, konferensi multilateral di London pada 2025, hingga agenda trilateral di Abu Dhabi ini. Selama bertahun-tahun, beberapa rencana perdamaian dan mekanisme penyelesaian konflik telah diusulkan, termasuk pengembangan jaminan keamanan internasional terhadap Ukraina sebagai bagian dari upaya diplomatik yang lebih luas.
Di Balik Pertemuan: Kepentingan, Strategi, dan Batu Sandungan
Pertemuan trilateral ini berjalan di bawah tekanan beberapa kontradiksi kuat:
- Prioritas Wilayah vs. Keamanan: Rusia menegaskan kendali atas wilayah tertentu seperti Donbas sebagai kondisi penting dalam negosiasi, sedangkan Ukraina menolak keras memberikan konsesi luas yang bisa mengurangi kedaulatannya.
- Peran AS sebagai Mediator dan Penopang Strategis: AS berupaya menyeimbangkan dukungan militer bagi Ukraina dengan diplomasi yang bisa membuat kedua pihak mencapai titik temu. Ini menunjukkan kompleksitas peran AS: memfasilitasi damai sambil tetap mempertahankan tekanan terhadap Rusia.
- Ekskalasi Militer vs. Diplomasi: Meskipun pembicaraan berlangsung, tingkat serangan di front konfliknya tidak sepenuhnya surut, memperlihatkan bahwa tekanan militer terus berlanjut bahkan saat jalur diplomasi dibuka. Ini mencerminkan bahwa pembicaraan damai seringkali harus berjalan berdampingan dengan realitas perang yang masih aktif.
Skenario Diplomasi dan Tantangan Mendatang
Pertemuan trilateral di Abu Dhabi menjadi momen bersejarah: karena untuk pertama kalinya sejak 2022, delegasi Kyiv, Moskow, dan Washington duduk bersama dalam sebuah forum langsung yang membuka jalur resmi menuju perundingan damai yang lebih besar. Namun, keberlanjutan pembicaraan ini masih menghadapi tantangan besar terutama soal territorial integrity, security guarantees, serta kepercayaan antara pihak yang tengah berkonflik.
Jika pembicaraan berhasil menciptakan kerangka yang disetujui oleh ketiga pihak, maka ini bisa menjadi titik balik penting dalam meredakan perang berkepanjangan. Sebaliknya, jika negosiasi menemui jalan buntu, konflik kemungkinan akan memasuki fase diplomasi lanjutan yang lebih rumit dan panjang menguji batas ketegangan geopolitik global abad ke-21.




