
Migrasi kader partai mapan ke psi menjadi fenomena yang tidak lagi sekadar pergerakan individual politisi, tetapi sebuah sinyal kuat perubahan peta kekuasaan nasional. Perpindahan sejumlah elite dari partai besar seperti Partai NasDem dan Golkar menuju Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai banyak pengamat sebagai cerminan jelas dari pengaruh kuat Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dalam arena politik pascapresiden.
Pengamat politik seperti Arifki Chaniago menegaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar migrasi biasa, melainkan strategi elite yang membaca kalkulasi kekuasaan di luar sekadar loyalitas ideologis. Peta kepartaian nasional pun bergerak pesat; PSI yang sebelumnya dipandang sebagai pemain kecil tiba-tiba menjadi magnet bagi politisi mapan.
Migrasi Kader Partai Mapan ke PSI: Fakta Lapangan dan Interpretasi Politik
Temuan Aktual tentang Migrasi Kader
Aktual.com mencatat bahwa perpindahan kader dari partai mapan ke PSI terjadi dalam jumlah yang relatif mengejutkan. Figur seperti Ahmad Ali dan Bestari Barus dari NasDem, serta beberapa nama lain dari Golkar disebut telah memilih bergabung dengan PSI. Langkah ini dipandang sebagai upaya mereka mencari kendaraan politik dengan prospek kekuasaan yang semakin kuat menjelang Pemilu 2029.
Arifki Chaniago dalam keterangannya kepada media menekankan bahwa fenomena ini sulit terjadi apabila PSI tidak diasosiasikan dengan figur Jokowi sosok yang punya daya magnet elektoral dan pengalaman pemerintahan yang luas. “Perpindahan kader dari partai mapan ke partai kecil tidak lazim jika tidak ditopang figur besar,” kata Arifki, menunjukkan bahwa keputusan politik ini bukan sekadar oportunisme biasa.
Mengapa Migrasi Kader Partai Mapan ke PSI Jadi Isu Politik Penting
Jokowi sebagai Jangkar Elektoral PSI
Dalam sejarah politik Indonesia, figur mantan presiden seringkali menjadi jangkar elektoral yang tak tergantikan. Contoh seperti Susilo Bambang Yudhoyono di Partai Demokrat atau Megawati Soekarnoputri di PDI Perjuangan memperlihatkan bahwa figur sentral bisa mengangkat posisi partai menjadi sangat dominan. Arifki menilai Jokowi memiliki potensi yang sama bila benar-benar terlibat dalam dinamika PSI.
Fenomena migrasi kader partai mapan ke psi lantas menjadi bukti nyata bahwa elite politik kini membaca PSI bukan lagi sebagai partai minor, tetapi sebagai jalur alternatif menuju arena kekuasaan yang lebih luas. Tidak sedikit politisi yang melihat peluang itu sebagai jalan pintas menghadapi kompetisi politik yang makin keras di partai besar lama.
Strategi Rasional Elite vs Ideologi
Arifki juga menegaskan bahwa migrasi ini lebih didorong oleh kalkulasi rasional elite daripada sekadar kecocokan ideologi. Banyak kader disebut “pindah kendaraan” untuk mengamankan posisi dalam struktur baru yang berpeluang menang besar dalam kontestasi politik mendatang. Ini menunjukkan bahwa elite tidak lagi berpegang kuat pada organisasi lama, tetapi bersedia beralih ke partai yang dipandang memiliki momentum politik lebih kuat.
Siapa Aktor di Balik Fenomena Ini?
Partai Solidaritas Indonesia (PSI)
PSI, partai yang relatif muda dalam politik Indonesia, menjadi pusat dalam narasi migrasi ini. Awalnya dibentuk dengan basis generasi muda dan platform progresif, PSI tiba-tiba mendapat lonjakan figur dari partai mapan yang sebelumnya memiliki jaringan dan legitimasi di tingkat daerah maupun nasional.
Direktur Reformasi Birokrasi DPP PSI, Ariyo Bimmo, bahkan menyatakan bahwa gelombang kader bergabung bisa dibaca sebagai efek Jokowi karena keyakinan terhadap nilai-nilai politik kerja nyata dan pendekatan rasional yang diusung PSI.
Jokowi sebagai Figur Sentral
Sementara itu, Jokowi sendiri berulang kali disebut sebagai figur yang menjadi alasan kuat di balik fenomena ini. Tidak selalu secara langsung mengajak tokoh lain, tetapi keberadaan dan pengaruh politiknya memberi sinyal kuat kepada elite bahwa PSI adalah kendaraan yang layak diperhitungkan. Pengaruh ini, menurut Arifki, mempercepat posisi PSI dalam peta politik nasional.
Partai Mapan (NasDem, Golkar, dsb.)
Kader yang keluar dari partai mapan seperti NasDem dan Golkar merepresentasikan dinamika internal di partai-partai besar. Ketika elite merasakan peluang di luar struktural organisasi lama, mereka memilih AMC (alternative movement of convenience) yakni bergabung ke PSI karena mempertimbangkan efektivitas peluang politik mereka.
Konteks Sejarah Migrasi Parpol di Indonesia
Fenomena migrasi kader partai mapan ke psi bukan sepenuhnya asing dalam politik Indonesia. Sejarah politik menunjukkan bahwa elite sering kali berpindah partai ketika momentum politik berubah atau peluang kekuasaan bergeser. Namun yang menarik kali ini adalah kecepatan dan volume perpindahan dari partai besar ke partai relatif kecil, yang mencerminkan dinamika baru dalam peta kekuasaan nasional menjelang pemilu besar berikutnya.
Migrasi ini juga memperlihatkan bahwa loyalitas partai tradisional mulai dilawan oleh pragmatisme politik dan realisme distribusi kekuasaan. Elite politik kini cenderung membaca peluang struktural dan elektoral ketimbang sekadar mempertahankan basis lama.
Skenario Politik ke Depan
Perpindahan kader besar ke PSI diprediksi akan berdampak pada konfigurasi politik menuju Pemilu 2029. Jika fenomena ini terus berlanjut, PSI bisa berubah dari partai kecil menjadi kekuatan menengah atau besar dalam satu siklus pemilu sesuatu yang jarang terjadi tanpa dukungan figur besar atau momentum kuat.
Namun, tantangan terbesar PSI adalah mengubah momentum ini menjadi hasil elektoral yang konkret. Sekadar migrasi figure elite saja tidak cukup, harus disertai struktur organisasi yang solid, basis massa yang kuat, dan citra politik yang tidak hanya bergantung pada figur Jokowi.
Dalam konteks ini, migrasi kader partai mapan ke psi mencerminkan lebih dari sekadar pergeseran organisasi. Ini adalah pembacaan ulang lanskap kekuasaan, di mana elite memilih jalur realistis demi mempertahankan relevansi politik mereka di tengah ketidakpastian kontestasi nasional.
Baca Juga Berita Rekomendasi Lainnya: Pro Kontra Ambang Batas Parlemen




