
Tiga Kader Senior NasDem Pindah ke PSI di Tengah Perombakan Peta Partai
Jakarta — Tiga politisi senior yang sebelumnya bernaung di Partai NasDem secara resmi keluar dari partai tersebut dan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), partai yang kini dipimpin oleh Kaesang Pangarep. Ketiga tokoh itu adalah Ahmad Ali, Bestari Barus, dan Rusdi Masse Mappasessu, yang kini secara terbuka memutuskan untuk “berlabuh” ke PSI, membuka babak baru dalam dinamika relokasi elite politik di Indonesia.
Mengapa Ini Signifikan di Tengah Geopolitik Partai
Perpindahan kader dengan profil tinggi dari satu partai besar ke partai yang relatif lebih muda bukan hanya sekadar mutasi personal; fenomena ini mengindikasikan adanya pergeseran strategi politik dan upaya reposisi ideologis jelang kontestasi elektoral mendatang. NasDem, sebagai partai yang kerap menjadi kekuatan penting di koalisi pemerintahan, kini harus mengelola tantangan internal yang berpotensi mereduksi pengaruhnya, sedangkan PSI berpotensi memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat basis dukungan dan citranya sebagai tempat baru bagi elite yang mencari ruang ekspansi politik.
Siapa Aktor & Kepentingannya
Ahmad Ali
Politikus asal Sulawesi Tengah ini bukan wajah baru dalam politik nasional. Ia pernah menjabat anggota DPR RI dua periode dan memiliki pengalaman panjang di legislatif sejak periode 2014–2024. Ali dulu merupakan kader NasDem sebelum memutuskan pindah ke PSI sebuah penggabungan yang tak hanya simbolik tetapi strategis karena mewakili kelahiran kembali figur politisi senior di partai yang relatif muda.
Bestari Barus
Sebagai salah satu kader yang lebih dahulu masuk PSI, Bestari Barus memainkan peran penting dalam transisi ini. Ia kini menjabat sebagai Ketua DPP PSI dan menjadi perantara resmi dalam menyambut figur-figur seperti Rusdi Masse ke dalam struktur organisasi PSI. Bestari tidak sekadar menyambut secara formal; dia tampil sebagai ujung tombak untuk mengokohkan posisi PSI sebagai magnet baru bagi elite politik yang ingin mengoptimalkan peluang politiknya.
Rusdi Masse Mappasessu
Rusdi, yang menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR RI dari fraksi NasDem sebelum pengunduran dirinya, menjadi tokoh paling “mencolok” dalam gelombang ini. Pergeseran Rusdi yang juga datang dengan dukungan basis massa dari wilayah Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa PSI ingin memperluas basis regionalnya dan bukan sekadar mengkapitalisasi nama besar saja. PSI bahkan dikabarkan menyiapkan “posisi khusus” bagi Rusdi dalam struktur partai apabila bergabung secara resmi.
Partai Solidaritas Indonesia (PSI)
Menerima ketiga mantan kader NasDem ini memberi PSI keuntungan dua arah: memperluas jangkauan pemilih dan menampilkan citra sebagai platform politik yang “dituju” oleh elite mapan. PSI kini diposisikan sebagai alternatif politik yang menarik, terutama bagi sosok-sosok yang mungkin terhambat dalam struktur lama partai mereka.
Partai NasDem
Bagi NasDem, kepergian tokoh-tokoh senior ini menjadi sinyal potensi masalah internal dan tantangan regenerasi kader. Meski NasDem sempat merespons positif langkah individu tersebut, fakta bahwa kader-kader ini memilih pindah termasuk meninggalkan struktur lama seperti kursi legislatif memunculkan risiko erosi legitimasi dan loyalitas politik.
Konteks Historis & Tren Pergerakan Elit di Tengah Politik Modern
Perpindahan elite partai bukan fenomena baru di politik Indonesia, namun intensitasnya terutama menjelang gelombang kontestasi besar (pemilu legislatif atau presiden) menunjukkan fenomena “perdagangan elite politik” yang semakin pragmatis. PSI sendiri telah beberapa kali menjadi tempat tujuan bagi politisi yang mencari portfolio atau ekspansi karier, seperti langkah Ahmad Ali yang sebelumnya sudah pindah dari NasDem ke PSI pada 2025.
Fenomena ini menggambarkan bahwa partai lama tidak lagi menjadi satu-satunya jalur untuk mobilitas politik tinggi, sementara partai baru seperti PSI mencoba menegaskan diri sebagai wadah yang lebih fleksibel dan mungkin menjanjikan posisi strategis yang lebih cepat.
Di Balik Eksodus: Strategi, Oportunisme, atau Reorientasi Politik?
Langkah ketiga tokoh ini mencerminkan beberapa motif yang berlapis:
- Optimalisasi peluang politik personal: Bagi Ahmad Ali dan Bestari Barus, bergabung dengan PSI berarti kesempatan untuk memperkuat posisi mereka di kancah politik nasional dengan struktur kepartaian yang mungkin lebih menguntungkan.
- Rekonsiliasi ideologis dan pragmatisme: PSI, sebagai partai yang menonjolkan isu-isu progresif, dapat dilihat sebagai ruang yang lebih dinamis bagi elite yang ingin menggabungkan pengalaman legislatif senior dengan visi politik baru.
- Simbol kekuatan PSI sebagai alternatif politik: Keputusan figur-figur senior ini menandakan bahwa PSI tidak lagi sekadar partai kecil ia kini menjadi magnet strategis untuk kader-kader besar yang ingin mempertajam pengaruh mereka menjelang Pemilu 2029 dan wilayah politik yang lebih luas.
Menyongsong 2029, PSI dan NasDem di Panggung Politik Baru
Gelombang perpindahan elite ini membuka pertanyaan besar tentang arah politik kedua partai menjelang kontestasi besar berikutnya. PSI bisa memetik keuntungan signifikan dari figur senior yang pindah, bukan hanya dari reputasi tetapi juga basis jaringan politik yang dibawa oleh tokoh-tokoh tersebut.
Sementara itu, NasDem dihadapkan pada tugas berat untuk mempertahankan jiwa kadernya dan merestrukturisasi organisasi agar mampu bersaing kuat melalui regenerasi leadership yang solid.
Pergerakan politik semacam ini bukan sekadar “pindah partai” biasa ia sebuah gejolak di peta politik nasional yang menandai ulang posisi kekuatan dan narasi baru menuju Pemilu 2029 yang semakin dinamis.




