Israel Masih Serang Gaza dan Manuver Prabowo

In Politik Internasional, Diplomasi
February 02, 2026
Israel masih serang Gaza dan manuver diplomasi Prabowo Subianto di forum internasional

Israel masih serang Gaza di tengah meningkatnya tekanan internasional untuk menghentikan eskalasi konflik. Di saat yang sama, Istana mengungkap langkah-langkah yang dilakukan oleh Prabowo Subianto dalam forum-forum strategis global. Pernyataan resmi pemerintah menegaskan posisi Indonesia yang konsisten mendukung penghentian kekerasan dan perlindungan warga sipil. Namun di balik narasi normatif tersebut, terdapat kalkulasi politik dan diplomatik yang patut dibaca lebih dalam, terutama terkait positioning Indonesia di tengah peta geopolitik global yang kian terpolarisasi.

Mengapa Ini Penting

Ketika Israel masih serang Gaza, setiap pernyataan dan langkah diplomatik Indonesia memiliki bobot politik yang tidak kecil. Indonesia bukan sekadar pengamat konflik Timur Tengah, tetapi negara dengan posisi moral yang kuat dalam isu Palestina. Karena itu, respons Prabowo tidak hanya berbicara soal solidaritas kemanusiaan, tetapi juga menyangkut arah kebijakan luar negeri pemerintahan mendatang. Di titik ini, isu Gaza menjadi arena uji awal bagi kepemimpinan Prabowo di panggung internasional.

Aktor dan Kepentingan

Konflik Gaza melibatkan aktor global dengan kepentingan yang berlapis. Di satu sisi, Israel mempertahankan narasi keamanan nasionalnya. Di sisi lain, Gaza menjadi simbol penderitaan sipil dan kegagalan komunitas internasional menghentikan kekerasan. Dalam konteks ini, Indonesia memainkan peran sebagai suara dari Global South yang konsisten menyuarakan keadilan bagi Palestina.

Bagi Prabowo, sikap terhadap konflik ini memiliki implikasi ganda. Secara eksternal, ia harus menjaga konsistensi posisi Indonesia agar tetap kredibel di mata dunia Islam dan negara-negara berkembang. Secara internal, sikap tegas terhadap Gaza juga memiliki resonansi politik domestik, mengingat kuatnya solidaritas publik Indonesia terhadap Palestina.

Istana menyebut bahwa langkah-langkah Prabowo di berbagai forum internasional diarahkan untuk mendorong penghentian kekerasan dan membuka jalur diplomasi. Namun, langkah ini juga dapat dibaca sebagai upaya awal membangun citra kepemimpinan global bahwa pemerintahan mendatang tidak akan pasif dalam isu-isu kemanusiaan internasional.

Konteks Diplomasi Indonesia

Sejak lama, Indonesia memosisikan diri sebagai pendukung kemerdekaan Palestina dan penentang agresi militer terhadap warga sipil. Ketika Israel masih serang Gaza, posisi ini kembali diuji. Tidak cukup hanya dengan pernyataan kecaman, diplomasi aktif menjadi tuntutan. Dalam konteks ini, keterlibatan Prabowo di forum internasional menjadi sinyal bahwa isu Gaza tidak diperlakukan sebagai agenda simbolik semata.

Namun, diplomasi memiliki batas. Indonesia tidak berada dalam posisi kekuatan militer atau ekonomi yang dapat langsung menekan Israel. Karena itu, strategi yang diambil lebih bersifat moral dan kolektif—menggalang dukungan internasional, memperkuat tekanan global, dan menjaga isu Gaza tetap berada di radar dunia.

Mengapa Manuver Ini Disorot Sekarang

Sorotan terhadap langkah Prabowo muncul pada momen ketika eskalasi kekerasan di Gaza belum menunjukkan tanda mereda. Dalam situasi seperti ini, diam berarti kehilangan posisi. Pernyataan Istana tentang tindakan Prabowo dapat dibaca sebagai pesan ganda: kepada dunia internasional bahwa Indonesia aktif, dan kepada publik domestik bahwa kepemimpinan baru memiliki kepedulian nyata terhadap isu kemanusiaan global.

Timing ini juga penting karena menempatkan Prabowo sebagai aktor yang sudah “bekerja” bahkan sebelum resmi memimpin pemerintahan. Dalam pembacaan politik, ini adalah upaya membangun legitimasi awal di level internasional, sekaligus mempertegas kontinuitas kebijakan luar negeri Indonesia.

Implikasi Geopolitik dan Citra Global

Ketika Israel masih serang Gaza, sikap negara-negara dunia akan dicatat dan diingat. Bagi Indonesia, konsistensi sikap menjadi aset diplomatik. Langkah Prabowo di forum global berpotensi memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang berani bersuara di tengah ketidakadilan internasional. Namun, citra ini juga menuntut konsistensi jangka panjang, bukan hanya respons sesaat.

Di sisi lain, posisi tegas terhadap Gaza juga harus dikelola agar tidak menutup ruang diplomasi dengan pihak-pihak lain yang memiliki pandangan berbeda. Inilah dilema diplomasi: antara ketegasan moral dan fleksibilitas strategis.

Politik Luar Negeri sebagai Panggung Awal

Bagi Prabowo, isu Gaza menyediakan panggung awal untuk menunjukkan gaya kepemimpinan luar negeri. Apakah ia akan memilih jalur simbolik atau diplomasi aktif akan menjadi penanda penting. Pernyataan Istana menunjukkan kecenderungan bahwa isu ini diperlakukan sebagai bagian dari agenda strategis, bukan sekadar retorika.

Dalam konteks Israel masih serang Gaza, setiap langkah kecil memiliki makna besar. Keikutsertaan dalam forum internasional, pernyataan resmi, hingga lobi diplomatik menjadi bagian dari orkestrasi politik luar negeri yang sedang dibangun.

Dampak terhadap Politik Domestik

Respons terhadap Gaza juga memiliki implikasi domestik. Solidaritas terhadap Palestina adalah isu yang relatif konsensus di Indonesia. Dengan mengambil posisi tegas, Prabowo memperkuat dukungan moral dari publik. Namun, dukungan ini juga menciptakan ekspektasi: bahwa sikap tersebut akan diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata, termasuk bantuan kemanusiaan dan diplomasi berkelanjutan.

Skenario ke Depan

Selama Israel masih serang Gaza, isu ini akan terus menjadi ujian bagi diplomasi Indonesia dan kepemimpinan Prabowo. Skenario paling realistis adalah diplomasi berkelanjutan yang menempatkan Indonesia sebagai bagian dari tekanan kolektif internasional. Namun, jika eskalasi berlanjut tanpa respons global yang signifikan, posisi moral saja tidak cukup.

Pertaruhan ke depan bukan hanya soal sikap terhadap Gaza, tetapi soal bagaimana Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo memposisikan diri dalam tatanan global yang semakin keras dan transaksional. Gaza menjadi ujian awal: apakah diplomasi Indonesia mampu melampaui pernyataan dan berkontribusi nyata pada upaya penghentian kekerasan.

Baca Juga : Borok Seleksi Hakim MK dan Cara Brutal DPR