
Kaesang Tegaskan Strategi Kaum Muda PSI di Sulsel
Makassar — Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, menanggapi sorotan publik terhadap usia Ketua DPW PSI Sulawesi Selatan, Muammar Gandi Rusdi yang baru 19 tahun, dengan nada optimis saat memimpin pelantikan pengurus PSI Sulsel di Hotel Claro, Makassar, Rabu (28/1/2026). Kaesang menilai pengalaman politik nyata dan mobilisasi kader di lapangan bisa menjadi modal yang lebih kuat daripada sekadar latar belakang akademik formal.
Kenapa Ini Penting dalam Konteks Strategi Politik PSI
Komentar Kaesang bukan sekadar soal usia. Ia mengaitkan pilihan kepengurusan muda itu dengan strategi budaya partai yang mengedepankan energi, inovasi, dan keterhubungan dengan generasi baru pemilih. Dalam konteks persiapan jelang Pemilu 2029, PSI sedang mencoba memasukkan basis generasi muda sebagai motor penggerak struktur partai sebuah narasi politik yang berpotensi menggeser cara partai tradisional memandang kaderisasi.
Siapa Aktor & Apa Kepentingannya
Kaesang Pangarep — Ketua Umum PSI
Sebagai pemimpin partai, Kaesang menekankan bahwa usia semata bukan halangan bagi seorang politikus untuk mengambil peran strategis. Komentarnya menegaskan bahwa PSI melihat kepemimpinan organisasi partai sebagai panggung kerja nyata, bukan hanya status formal berdasarkan ijazah atau pengalaman birokrasi panjang. Ia menyiratkan bahwa budaya partai modern bisa tumbuh lebih efektif bila dipimpin oleh generasi yang dekat dengan rakyat dan dinamika sosial terkini.
Muammar Gandi Rusdi — Ketua DPW PSI Sulsel (19 Tahun)
Penunjukan Gandi sebagai Ketua DPW PSI Sulsel menjadi simbol perubahan paradigma kaderisasi PSI di luar Jawa. Dengan usia yang sangat muda itu, Gandi menjadi wajah baru dari ambisi PSI untuk menggeser politik usia senior dan menghadirkan generasi baru yang enerjik dan mudah beradaptasi dengan dinamika politik lokal.
PSI dan Partai Politik Lokal
Pelantikan dan konsolidasi struktur partai di Sulawesi Selatan menjadi bagian dari strategi PSI untuk memasuki wilayah yang selama ini didominasi partai lain. Ambisi menjadikan Sulsel sebagai “kandang gajah” PSI istilah internal partai untuk basis kemenangan menunjukkan upaya penetrasi yang jauh lebih agresif.
PSI dan Politik Generasi Muda
PSI dikenal selama ini sebagai partai yang menonjolkan keterlibatan anak muda dalam politik sejak awal keikutsertaannya di kontestasi nasional. Di bawah kepemimpinan Kaesang, trend ini semakin diperkuat lewat penempatan figur muda di posisi strategis, termasuk di tingkat wilayah yang sebelumnya kurang terwakili partai baru seperti PSI. Pendekatan ini bukan hanya simbolik, tetapi sengaja dipilih sebagai strategi mengkapitalisasi basis pemilih generasi Z dan milenial yang semakin menentukan hasil politik di masa depan.
Risiko Politik & Strategi PSI
- Tantangan Legitimasi vs Energi Organisasi
Menempatkan kader sangat muda di pucuk struktur partai berpotensi memicu kritik tentang legitimasi pengalaman. Namun, Kaesang memosisikan ini sebagai keunggulan — karena kader muda lebih mudah menyerap aspirasi dan tren masyarakat luas dibanding elite politik tradisional. - Generasi Baru vs Partai Konvensional
PSI tampak mencoba mematahkan dominasi elite politik berpengalaman panjang dengan menempatkan energi muda sebagai pembeda strategis. Jika berhasil, ini bisa menjadi model baru kaderisasi partai yang responsif terhadap kebutuhan politik kekinian. - Potensi Ketidakstabilan Internal
Memilih pemimpin sangat muda bisa juga menghasilkan volatilitas struktur organisasi jangka pendek, terutama jika tidak didukung oleh sistem pelatihan dan mentoring yang memadai untuk menangani dinamika politik lokal yang kompleks.
PSI & Ambisi Politik di Tengah Generasi Baru
Komentar Kaesang soal usia ketua PSI Sulsel menggambarkan strategi partai yang mencoba memadukan dinamika generasi baru dengan tujuan politik jangka panjang. Dalam persiapan Pemilu 2029, PSI tampaknya ingin menegaskan bahwa keberanian menempatkan kader muda di garis depan bukan sekadar retorika, tetapi bagian dari pendekatan politik pragmatis yang bisa menarik basis pemilih muda sekaligus menantang dominasi partai tradisional di daerah.




