Sistem Multipartai Sederhana dan Dorongan Golkar

In Politik Nasional
February 01, 2026
Sistem multipartai sederhana didorong Partai Golkar demi efektivitas pemerintahan presidensial

Sistem multipartai sederhana kembali mengemuka dalam wacana politik nasional setelah Partai Golkar secara terbuka mendorong penyederhanaan sistem kepartaian demi efektivitas pemerintahan presidensial. Pernyataan ini disampaikan di tengah evaluasi panjang terhadap praktik pemerintahan yang dinilai kerap tersandera oleh fragmentasi politik di parlemen. Secara formal, dorongan ini dibingkai sebagai upaya memperkuat sistem presidensial. Namun secara politik, pernyataan Golkar membuka ruang pembacaan tentang arah konsolidasi kekuasaan dan posisi partai-partai besar dalam lanskap politik ke depan.

Mengapa Ini Penting

Dalam sistem presidensial yang dikombinasikan dengan multipartai ekstrem, efektivitas pemerintahan sering kali menjadi korban. Karena itu, dorongan terhadap sistem multipartai sederhana menjadi signifikan bukan hanya sebagai gagasan normatif, tetapi sebagai sinyal politik. Isu ini menyentuh inti persoalan kekuasaan: bagaimana presiden dapat menjalankan agenda tanpa harus terus-menerus bernegosiasi dengan terlalu banyak kepentingan politik di parlemen. Bagi Golkar, penyederhanaan partai diposisikan sebagai solusi struktural atas problem tersebut.

Aktor dan Kepentingan di Balik Wacana

Golkar bukan pemain netral dalam isu ini. Sebagai salah satu partai besar dengan sejarah panjang dalam pemerintahan, Golkar memiliki kepentingan langsung terhadap desain sistem politik. Dorongan terhadap sistem multipartai sederhana dapat dibaca sebagai upaya memperkuat posisi partai-partai besar dan menekan fragmentasi yang selama ini memberi ruang bagi partai kecil untuk memiliki daya tawar tinggi.

Di sisi lain, wacana ini juga menempatkan partai-partai menengah dan kecil pada posisi defensif. Penyederhanaan sistem kepartaian berpotensi mengurangi akses mereka terhadap kekuasaan, baik di parlemen maupun dalam koalisi pemerintahan. Dengan demikian, dorongan Golkar tidak hanya soal efektivitas pemerintahan, tetapi juga soal redistribusi kekuasaan politik.

Konteks Sistem Presidensial Indonesia

Sejak reformasi, Indonesia menganut sistem presidensial dengan konfigurasi multipartai. Kombinasi ini kerap menghasilkan pemerintahan koalisi yang besar, tetapi rapuh secara konsistensi. Presiden membutuhkan dukungan parlemen, sementara parlemen terdiri dari banyak partai dengan kepentingan beragam. Dalam konteks inilah gagasan sistem multipartai sederhana kembali diangkat sebagai jawaban atas ketidakseimbangan tersebut.

Golkar menilai bahwa terlalu banyak partai di parlemen membuat proses legislasi dan pengambilan keputusan menjadi tidak efisien. Setiap kebijakan strategis harus melewati kompromi panjang, yang pada akhirnya menggerus efektivitas pemerintahan. Narasi ini sejalan dengan kritik lama terhadap praktik koalisi gemuk yang tidak selalu berbanding lurus dengan stabilitas dan kinerja.

Mengapa Golkar Bicara Sekarang

Timing pernyataan ini patut dicermati. Dorongan Golkar terhadap sistem multipartai sederhana muncul di tengah transisi politik dan konsolidasi kekuasaan pasca-Pemilu. Pada fase ini, desain sistem politik ke depan masih relatif cair dan terbuka untuk diperdebatkan. Pernyataan Golkar dapat dibaca sebagai upaya mengunci arah diskursus sejak dini.

Secara strategis, wacana ini juga berfungsi sebagai positioning politik. Golkar menempatkan diri sebagai partai yang menawarkan solusi struktural, bukan sekadar manuver jangka pendek. Dengan berbicara atas nama efektivitas pemerintahan presidensial, Golkar mengangkat narasinya ke level kepentingan nasional, meski implikasinya jelas menguntungkan partai-partai besar.

Implikasi terhadap Demokrasi dan Representasi

Dorongan menuju sistem multipartai sederhana membawa konsekuensi ganda. Di satu sisi, penyederhanaan partai berpotensi meningkatkan efektivitas pemerintahan dan memperjelas garis akuntabilitas politik. Dengan lebih sedikit partai di parlemen, proses pengambilan keputusan dapat berjalan lebih cepat dan konsisten.

Namun di sisi lain, penyederhanaan juga berisiko mengurangi representasi politik. Partai kecil sering kali menjadi saluran aspirasi kelompok tertentu yang tidak terwakili oleh partai besar. Dalam konteks ini, efektivitas pemerintahan harus ditimbang dengan prinsip inklusivitas demokrasi. Inilah dilema klasik yang selalu menyertai gagasan penyederhanaan sistem kepartaian.

Konteks Historis dan Pola Berulang

Wacana penyederhanaan sistem kepartaian bukan hal baru dalam politik Indonesia. Setiap kali efektivitas pemerintahan dipertanyakan, gagasan ini kembali mencuat. Namun, realisasinya selalu menghadapi resistensi politik yang kuat, terutama dari partai-partai yang berpotensi dirugikan. Dalam konteks sistem multipartai sederhana, pola ini kemungkinan kembali terulang.

Golkar, dengan pengalaman panjangnya, tampak menyadari bahwa perubahan sistemik membutuhkan legitimasi publik dan konsensus politik yang luas. Karena itu, dorongan ini masih berada pada level wacana, bukan langkah legislasi konkret. Namun, wacana ini tetap penting karena membentuk arah perdebatan politik nasional.

Power Contest di Balik Narasi Efektivitas

Narasi efektivitas pemerintahan sering kali digunakan sebagai payung untuk kepentingan yang lebih spesifik. Dalam kasus dorongan sistem multipartai sederhana, efektivitas menjadi kata kunci yang sulit ditolak. Siapa yang berani menentang pemerintahan yang efektif? Namun di baliknya, terdapat kontestasi kekuasaan yang menentukan siapa bertahan dan siapa tersingkir dalam sistem politik.

Golkar, dengan basis politik dan infrastruktur yang mapan, berada pada posisi relatif aman dalam skenario penyederhanaan. Sebaliknya, partai-partai dengan basis elektoral terbatas akan menghadapi tantangan eksistensial. Di sinilah wacana ini menjadi arena tarik-menarik kepentingan yang nyata.

Skenario Politik ke Depan

Ke depan, dorongan terhadap sistem multipartai sederhana kemungkinan akan terus bergulir, terutama jika pemerintahan menghadapi hambatan serius dalam efektivitas kebijakan. Skenario paling realistis adalah wacana ini digunakan sebagai alat tekan politik, bukan langsung diterjemahkan menjadi perubahan sistem. Namun, jika konsolidasi kekuasaan menguat dan partai-partai besar menemukan titik temu, penyederhanaan sistem kepartaian dapat menjadi agenda nyata.

Pada akhirnya, pertarungan ini bukan semata soal desain sistem politik, tetapi soal siapa yang mengendalikan arah kekuasaan. Efektivitas pemerintahan menjadi argumen utama, sementara redistribusi kekuasaan menjadi taruhan di balik layar. Di titik inilah, dorongan Golkar terhadap sistem multipartai sederhana harus dibaca bukan hanya sebagai gagasan, tetapi sebagai manuver politik yang sarat kepentingan.

Baca Juga Berita Rekomendasi Lainnya: Kesepakatan Sementara Trump Demokrat Cegah Shutdown