Harga E Katalog Harus Lebih Murah dan Arah Reformasi Pengadaan

In Kebijakan Publik
February 10, 2026
harga e katalog

Harga e katalog kembali menjadi sorotan setelah pernyataan mantan Ketua LKPP menegaskan bahwa harga barang dalam sistem e katalog seharusnya lebih murah dibanding harga pasar. Pernyataan ini bukan sekadar koreksi teknis atas mekanisme pengadaan, melainkan sinyal terbuka bahwa ada persoalan mendasar dalam praktik belanja negara. Ketika instrumen yang dirancang untuk efisiensi justru dipertanyakan efektivitasnya, isu ini berubah menjadi perdebatan kebijakan yang sarat kepentingan.

Mengapa Isu Ini Menjadi Penting Sekarang

Menguatnya kembali isu harga e katalog terjadi pada momen ketika tekanan publik terhadap belanja negara semakin tinggi. Pemerintah berada dalam fase awal konsolidasi kebijakan, di mana agenda efisiensi dan pencegahan kebocoran anggaran menjadi sorotan utama. Dalam konteks ini, e katalog tidak lagi dipandang sekadar alat administrasi, tetapi simbol komitmen negara terhadap tata kelola anggaran yang bersih. Penegasan harga e katalog menjadi penting karena menyentuh langsung kredibilitas reformasi pengadaan yang selama ini diklaim berjalan.

Siapa Aktor Utama dan Kepentingannya

Aktor kunci dalam isu ini adalah Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah sebagai perancang dan pengelola sistem e katalog. Pernyataan dari mantan pimpinan lembaga ini memiliki bobot politik karena datang dari figur yang memahami dinamika internal dan eksternal pengadaan. Di sisi lain, terdapat penyedia barang dan jasa yang berkepentingan menjaga margin keuntungan, serta birokrasi pengadaan yang membutuhkan kepastian proses. Harga e katalog berada di titik temu kepentingan negara, pasar, dan aparatur.

Pemetaan Kepentingan dalam Sistem E Katalog

Jika dipetakan, terdapat tiga kepentingan besar dalam sistem e katalog. Pertama, kepentingan negara untuk mendapatkan harga terbaik secara transparan. Kedua, kepentingan penyedia yang ingin memastikan keberlanjutan bisnis dan margin. Ketiga, kepentingan birokrasi yang mengutamakan kecepatan dan keamanan prosedur. Ketika harga e katalog tidak lebih murah dari pasar, keseimbangan ini terganggu. Negara kehilangan argumen efisiensi, sementara penyedia dan birokrasi justru dianggap diuntungkan oleh sistem yang seharusnya netral.

Konteks Awal dan Penyimpangan Praktik

Secara konseptual, e katalog dirancang untuk memotong rantai perantara dan menekan harga melalui transparansi. Namun dalam praktiknya, harga yang tercantum sering kali menjadi patokan kaku, bukan alat kompetisi. Akibatnya, harga e katalog justru berpotensi mengunci harga tinggi. Penegasan bahwa harga e katalog harus lebih murah mengembalikan diskursus pada tujuan awal sistem ini dan membuka ruang evaluasi terhadap implementasi yang menyimpang.

Dampak terhadap Pola Belanja Pemerintah

Penegasan ini membawa implikasi langsung terhadap pola belanja kementerian dan pemerintah daerah. Jika harga e katalog ditekan agar benar benar kompetitif, ruang fiskal negara dapat diperluas tanpa menambah anggaran. Namun, perubahan ini juga menuntut penyesuaian sistem dan mentalitas pengadaan. Aparatur tidak lagi bisa bergantung pada kemudahan administratif semata, sementara penyedia harus beradaptasi dengan mekanisme harga yang lebih ketat. Harga e katalog menjadi instrumen kontrol, bukan sekadar etalase digital.

Politik Anggaran di Balik Pengadaan

Dalam politik anggaran, pengadaan barang dan jasa adalah sektor strategis karena menyerap belanja besar. Oleh karena itu, setiap upaya pengetatan harga selalu berhadapan dengan resistensi. Penegasan harga e katalog dapat dibaca sebagai upaya negara merebut kembali kendali atas instrumen belanja dari kepentingan sempit. Pada titik ini, kebijakan teknis berubah menjadi pernyataan politik tentang siapa yang diuntungkan dan siapa yang harus berkorban dalam reformasi anggaran.

Risiko dan Resistensi yang Mengintai

Tidak dapat dipungkiri, pengetatan harga e katalog berpotensi memunculkan resistensi dari berbagai pihak. Penyedia yang selama ini menikmati struktur harga tertentu akan terdampak langsung. Di internal birokrasi, kekhawatiran terhadap kualitas barang dan fleksibilitas pengadaan juga akan muncul. Karena itu, penegasan harga e katalog harus diiringi pengawasan dan pembaruan sistem agar tidak menciptakan masalah baru dalam layanan publik.

Skenario Kebijakan ke Depan

Ke depan, terdapat dua skenario utama. Pertama, penegasan ini ditindaklanjuti dengan reformasi nyata, termasuk pembaruan harga berbasis pasar dan penguatan pengawasan. Kedua, pernyataan ini berhenti sebagai koreksi normatif tanpa perubahan struktural. Dalam kedua skenario tersebut, harga e katalog akan menjadi indikator penting untuk menilai keseriusan pemerintah dalam membenahi pengadaan.

Penutup Analitis

Pada akhirnya, penegasan bahwa harga e katalog harus lebih murah bukan sekadar persoalan angka. Ia adalah cermin dari pertarungan antara idealisme reformasi dan realitas kepentingan. Apakah e katalog akan kembali pada mandat awalnya atau tetap menjadi simbol efisiensi semu, sangat bergantung pada keberanian negara menata ulang sistem pengadaan secara konsisten dan transparan.

Baca Juga : Pernyataan Prabowo Soal Kebocoran dan Arah Langkah Kejagung