
97 Gen Z Tak Suka Parpol dan Alarm Krisis Legitimasi Politik
97% Gen Z Tak Suka Parpol menjadi angka yang mengguncang ruang politik nasional. Pernyataan ini mencerminkan temuan survei yang menunjukkan mayoritas generasi Z memiliki ketidakpercayaan terhadap partai politik. Dalam konteks demokrasi elektoral, angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan alarm krisis legitimasi. Ketika generasi muda yang akan menjadi tulang punggung pemilih masa depan menunjukkan resistensi terhadap partai, maka yang dipertaruhkan bukan hanya elektabilitas, tetapi keberlanjutan sistem politik itu sendiri.
Aria Bima merespons fenomena ini dengan menyatakan bahwa partai harus “jorjoran” berbuat untuk rakyat. Pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai pengakuan bahwa problem bukan semata persepsi, tetapi menyangkut jarak antara partai dan kebutuhan publik.
Mengapa Gen Z Menjauh dari Parpol
Generasi Z tumbuh dalam era digital yang penuh keterbukaan informasi. Mereka menyaksikan langsung dinamika politik melalui media sosial dan platform daring tanpa filter yang ketat. Skandal korupsi, konflik elite, hingga pragmatisme politik mudah diakses dan dikritisi.
97% Gen Z Tak Suka Parpol dapat dipahami sebagai reaksi terhadap citra partai yang dianggap elitis, transaksional, dan kurang responsif. Bagi generasi ini, politik bukan lagi sekadar simbol atau ideologi, tetapi soal relevansi dan dampak nyata.
Kekecewaan juga muncul dari persepsi bahwa partai lebih sibuk pada perebutan kekuasaan dibanding penyelesaian persoalan konkret seperti lapangan kerja, pendidikan, dan krisis iklim.
Siapa yang Bertanggung Jawab atas Krisis Ini
Partai politik sebagai institusi tentu menjadi aktor utama yang harus melakukan evaluasi. Namun tanggung jawab tidak berhenti pada partai. Sistem politik yang cenderung mahal dan kompetitif juga mendorong partai mencari sumber daya yang kadang menjauhkan mereka dari akar aspirasi.
97% Gen Z Tak Suka Parpol menjadi cermin bahwa pola komunikasi dan kaderisasi partai belum mampu menjawab ekspektasi generasi baru. Aria Bima sebagai politisi senior membaca situasi ini sebagai kebutuhan perubahan pendekatan.
Pertanyaannya adalah sejauh mana partai benar benar siap melakukan transformasi.
Aria Bima dan Seruan Perubahan Strategi
Pernyataan Aria Bima agar partai “jorjoran” berbuat untuk rakyat bisa dibaca sebagai seruan internal untuk membenahi citra dan kinerja. Dalam politik modern, citra tidak bisa dibangun hanya melalui narasi, tetapi harus berbasis kinerja.
97% Gen Z Tak Suka Parpol menuntut perubahan strategi komunikasi dan kebijakan. Generasi muda lebih responsif terhadap aksi konkret dibanding slogan.
Seruan tersebut juga mencerminkan kesadaran bahwa tanpa adaptasi, partai berisiko kehilangan relevansi.
Politik Generasi Digital
Generasi Z hidup dalam ekosistem digital yang menuntut transparansi dan partisipasi. Mereka terbiasa menyuarakan opini dan mengkritik kebijakan secara terbuka.
97% Gen Z Tak Suka Parpol menunjukkan bahwa partai belum sepenuhnya berhasil masuk ke ruang dialog digital secara autentik. Kampanye formal dan simbolik tidak lagi cukup.
Partai perlu membangun mekanisme partisipasi yang nyata, bukan hanya mengundang generasi muda sebagai pelengkap acara.
Dampak terhadap Peta Elektoral
Dalam setiap pemilu mendatang, proporsi pemilih muda akan semakin dominan. Jika tren ketidaksukaan terhadap partai terus meningkat, maka legitimasi partai bisa tergerus.
97% Gen Z Tak Suka Parpol menjadi indikator bahwa partai perlu mengubah pola kaderisasi dan komunikasi politik. Tanpa perubahan, suara generasi muda bisa mengalir ke alternatif non partai atau gerakan independen.
Ini bukan hanya ancaman elektoral, tetapi juga tantangan struktural bagi sistem kepartaian.
Reformasi Internal sebagai Kunci
Perubahan tidak cukup dilakukan di level komunikasi. Reformasi internal partai menjadi prasyarat. Transparansi pendanaan, rekrutmen kader berbasis merit, dan penguatan integritas menjadi kebutuhan mendesak.
97% Gen Z Tak Suka Parpol akan sulit diubah jika partai tetap mempertahankan pola lama. Generasi ini menuntut konsistensi antara ucapan dan tindakan.
Transformasi budaya organisasi menjadi kunci keberhasilan.
Risiko Jika Tidak Berubah
Jika partai gagal beradaptasi, maka jarak antara elite politik dan generasi muda akan semakin lebar. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan partisipasi politik formal.
97% Gen Z Tak Suka Parpol bisa berkembang menjadi apatisme politik. Apatisme ini berbahaya karena melemahkan fondasi demokrasi representatif.
Partai harus membaca angka tersebut bukan sebagai kritik sesaat, tetapi sebagai sinyal perubahan sosial yang lebih besar.
Skenario ke Depan
Ada dua kemungkinan. Pertama, partai benar benar melakukan pembenahan dan menghadirkan program nyata yang relevan dengan kebutuhan generasi muda. Dalam skenario ini, kepercayaan dapat dipulihkan secara bertahap.
Kedua, partai hanya merespons dengan narasi tanpa perubahan struktural. Jika demikian, tren ketidakpercayaan akan terus meningkat.
97% Gen Z Tak Suka Parpol menjadi titik uji bagi kesiapan partai menghadapi perubahan zaman.
Penutup Analitis
97% Gen Z Tak Suka Parpol bukan sekadar angka survei. Ia adalah cermin perubahan cara pandang generasi muda terhadap politik. Aria Bima mengakui bahwa partai harus bekerja lebih keras dan lebih nyata untuk rakyat.
Demokrasi membutuhkan partai yang relevan dan dipercaya. Jika generasi muda kehilangan kepercayaan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kursi legislatif, tetapi masa depan sistem politik itu sendiri.
Transformasi bukan pilihan, melainkan keharusan.
Baca Juga : Israel Resmi Gabung Board of Peace Bersama Indonesia dan 26 Negara




